Organisasi Apa Ini

Posted on
  • Rabu, 07 April 2010
  • by
  • Giswa Juanda
  • in
  • Label:
  • oleh Giswa Juanda
    akubukanmanusiapurba.blogspot.com

    Melihat dari judulnya seolah mempertanyakan sesuatu yang berangkat dari ketidaktahuan, atau bisa diintepretasikan sebagai suatu kekecewaan atas ketidakpuasan akan sesuatu, dalam hal ini sebuah organisasi. Kedua intepretasi diatas bisa saja benar, namun tidak bisa diartikan secara parsial saja, artinya ada hal lain yang harus dilihat untuk mendapat makna yang sebenarnya. Tulisan ini ditulis berangkat dari keinginan untuk memetakan hal apa saja yang telah saya dapatkan dari organisasi ini, hal apa saja yang telah saya berikan pada organisasi ini.




    Lembaga Pers Mahasiswa

    Dari namanya saja secara singkat kita dapat langsung mengklasifikasikan organisasi apa ini, namun hal apa yang terjadi tidak menjadikan nama akan selalu menggambarkan apa yang ada didalamnya. Lembaga Pers Mahasiswa Pro Justitia Fsayaltas Hukum Unsoed, itu nama lengkap organisasi yang saya perbincangkan sedari tadi. Organisasi dimana saya berkembang bersama kawan anggota dan pengurus lainnya, organisasi dimana saya belajar banyak managemen konflik dari pertentangan-pertentangan yang terjadi.

    Saat ini saya sedang berada dalam posisi tanpa jabatan, karena baru beberapa hari lalu organisasi ini melaksanakan Musyawarah Anggota, suatu forum tertinggi di organisasi dan baru memilih Pemimpin Umum saja. Sebelum ini saya menduduki jabatan Pemimpin Redaksi (Pempred) periode kepengurusan 2009-2010, dimana pada Musang kemarin saya dan bidang yang saya pimpin mendapat banyak evaluasi untuk dibenahi.

    Kembali lebih jauh ke belakang, saat dimana saya dan kawan-kawan angkatan PJ 2007 baru menginjakkan kakinya di tanah intelektualitas dengan label mahasiswa dan disajikan dengan berbagai macam pilihan pengembang bakat seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ditawarkan saat OSPEK (sekarang OSMB). Dulu terdapat 15 UKM dan salah satunya LPM Pro Justitia, dan jujur saya tuliskan bahwa masuknya saya dalam organisasi ini bukan merupakan suatu kesengajaan karena minat sedari awal, namun ajakan dari seorang kawan yang saya pikir organisasi ini sebagai orgnisasi pengembang bakat musik (saat itu nama beberapa organisasi hampir sama). Oleh karenanya pula keaktifan saya diorganisasi ini terlambat satu semester setelah saya mendaftar.

    Pencitraan yang diciptakan saat itu memang sangat kentara melejit dibanding dengan organisasi lainnya, karena berita-berita yang disajikan tidak hanya sekedar informasi belaka, namun aspirasi yang menuai tanda tanya bahkan keberangan dari beberapa pihak. Setiap pemberitaan yang dikeluarkan mengandung sikap skeptis kepada tiap kebijakan kampus saat itu, itu pula yang membuatku betah dengan organisasi ini. Kami sebagai anggota magang mulai berkembang dengan berbagai diskusi redaksi yang disajikan dan pertentangan-pertentangan yang membuat mental kami teruji. Bahkan tidak hanya dikalangan UKM, namun meluas di kalangan mahasiswa pada umumnya karena keaktifan kami dalam forum-forum diskusi di kelas. Paling tidak itulah hal yang saya rasakan dan saya dengar dari kawan-kawan lain, bahwa organisasi ini disegani.

    Regenerasi buaya

    Pencitraan tadi membuat banyak mahasiswa lain tertarik untuk bergabung. Namun konsekuensi yang ada membuat mereka menimbang lagi keputusan mereka untuk bergabung. Banyak pula kawan anggota yang telah bergabung akhirnya mental karena tidak kuat mental.

    Untuk anggota PJ 2008 sendiri kebanyakan berasal dari mahasiswa FH angkatan 2007, karena efek dari pencitraan tadi, bahwa mahasiswa baru akan kurang tertarik untuk bergabung dengan PJ saat mereka pertama kali masuk FH, namun setelah setahun mereka berproses di FH dan mendengar cerita-cerita tetang PJ yang dari banyak kawan terdengar progresif, maka baru ditahun selanjutnya mereka bergabung. Pada tahun saya, hanya ada 4 mahasiswa yang seangkatan dengan saya, selebihnya angkatan-angakatan yang lebih tua.

    Apabila melihat proses rekruitmen organisasi ini, saya analogikan dengan regenerasi buaya. Pada awal buaya bertelur, mereka menghasilkan banyak telur, namun pada akhirnya hanya beberapa saja yang akan menetas dan menjadi bayi buaya, bahkan dari beberapa bayi buaya yang akan menjadi buaya dewasa dan melewati kematian hanya beberapa saja. Seperti itulah Pro Justitia, dari tingkatan yang termula yakni calon anggota magang, anggota magang, anggota, lalu menjadi pengurus akan terlihat eliminasi alam dari mental dan skillnya. Karenanya pula organisasi ini menelurkan banyak orang-orang hebat.

    Proses demi proses kami ikuti, namun apa yang senyatanya terjadi dibelakang tidak seperti apa yang disampaikan. Musang kedua yang saya ikuti menjawab semua pertanyaan yang saya simpan, memaparkan kenyataan yang ada dan menjadi pekerjaan rumah bagi saya dan kawan 2007 lainnya untuk membenahi organisasi ini. Musang 2009 memang memberi angin segar bagi kepengurusan baru dengan saya sebagai Pemprednya, namun perjalanan selanjutnya terasa sangat memuakkan, jurang-jurang pemisah terkuak semakin lebar, satu-demi satu anggota bahkan pengurus menghilang entah kemana. Kenyamanan sudah tak lagi dapat menjadi motor penggerak organisasi ini. Namun saya berulangkali menekankan pada saya sendiri dan kawan lain untuk mengutamakan tanggung jawab, meskipun itu hal yang kurang baik dalam organisasi kolektif seperti UKM. Kami sebagai pengurus berusaha memberikan yang terbaik untuk mempertahankan organisasi ini. Walau sangat berbeda dengan saat saya menjadi anggota saat itu, itu pula yang menjadikan saya merasa sangat kurang dalam kepengurusan ini, sebagai Pemimpin Redaksi saya kurang menyalurkan ilmu yang seharusnya anggota dapatkan lebih. Lihat saja dari indikator produk, setiap produk yang dikeluarkan cenderung mencari aman, konsekuensinya menjadikan horizon kekritisan kami menumpul, terlebih dihadapkan dengan konflik internal. Seolah kami harus mengurusi pengurus lain yang seharusnya mengurusi organisasi ini lantas melupakan anggota.

    Diakhir kepengurusan, tanggung jawab bahkan tidak lagi menyenangkan bagi beberapa pengurus. Saya sempat berpikir bahwa saya berjuang sendirian mempertahankan organisasi ini, organisasi sepopuler Pro Justitia yang disegani di FH Unsoed saya pikir akan tamat riwayatnya saat itu. Namun saya salah, banyak pengurus lain ternyata masih peduli dengan organisasi ini, bahkan alumni sekalipun. Acara aditional yang diadakan alumni khusus untuk pengurus dan anggota cukup signifikan mengubah keadaan. Dari sinilah saya mendapat kolektifitas yang baru, membuat nyawa saya semakin lebar melekat pada organisasi ini dan saya yakin begitu pula kawan-kawan lainnya.

    Dan kini, setelah semua keburukan diungkap dalam musang kemarin, setelah semua pihak menyadari kekurangan masing-masing, setelah seorang pemimpin baru muncul, saya berharap Lembaga pers mahasiswa ini berjalan lebih tegap dalam mencari jatidirinya. Tak sabar menanti perubahan-perubahan yang baru. Dan mengenai pertanyaan ”Organisasi apa ini?”, saya harap akan menemukan jawaban dalam kepengurusan baru ini, dengan kolektifitas dari proses yang semakin lekat dan dengan hasil dari tiap proses tadi entah itu dalam bentuk produk atau skill yang tidak mengecewakan. Semoga!!


    Giswa Juanda
    Purwokerto, 180310

    0 komentar:

    Poskan Komentar